Flashback: Berlibur ke Kuala Lumpur 2006, Antara Sriwijaya, Bahasa Indonesia, dan Dunia Melayu

Tidak banyak yang saya ingat dari perjalanan wisata saya ke KL tiga tahun silam. Jujur saja waktu itu jiwa jalan-jalan saya belum terbentuk sepenuhnya jadi agak cuek saat ditawari ortu untuk liburan bersama ke sana. Yang saya ingat saya ke sana naik Air Asia. Dalam bayangan saya, saya akan mendarat di bandara Kuala Lumpur yang tersohor karena fasilitasnya yang amat modern. Saya tidak salah hanya saja saya mendarat di terminal baru yang sengaja diperuntukkan untuk penumpang-penumpang dari penerbangan murah. Sialan diskriminasi banget!! Batal deh melihat KL International Airport yang beneran he he. Pelabuhan udara ini terletak kurang lebih 50 km dari ibukota Malaysia. Tersedia alat transportasi modern berupa kereta (ga tahu saya jenisnya apa itu kereta api, kereta listrik, monorel) yang menghubungkan KLIA dan KLCC. Nah berhubung akomodasi kami diurus oleh agen perjalanan wisata kami naik bus menuju Kuala Lumpur. Sepanjang perjalanan kami dipandu oleh seorang Malaysia yang bercerita panjang lebar soal negaranya. Tak lupa ia mengingatkan kami tentang perbedaan kosakata antara Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia untuk menghindari kesalahan paham. Sebagai contoh untuk memesan mineral water katakanlah air mineral jangan aqua (emang orang Indonesia tuh brand-minded banget ya he he) sebab konon "aqua" berarti banci alias shemale dalam bahasa gaul Melayu (benar ga sih???). Dan banyak lagi, tapi saya lupa ;)Kalau dipikir-pikir bahasa Indonesia itu cepat sekali berubah ya. Terlahir sebagai bahasa yang dimodifikasi dari bahasa Melayu tahun 1928, lalu di-mix and match dengan kosakata bahasa-bahasa daerah esp. bahasa Jawa plus kata-kata pinjaman warisan penjajah Belanda. Voila jadi deh bahasa Indonesia yang kita tuturkan sekarang ini. Untuk lebih memahami perbedaan antara kedua bahasa serupa tapi tak sama ini ada baiknya Anda layari link ini. Btw kalau
sekarang orang sedang meributkan perihal budaya-budaya Indonesia yang diklaim oleh Malaysia seperti kesenian reog, jaranan, batik, keris, tari pendet, lagu kebangsaan Malaysia, well, menurut saya itu terlalu remeh dan superfisial sebab ada satu lagi produk budaya kita yang nilainya lebih wow yang dipakai oleh Malaysia namun tidak
pernah kita sadari yaitu, guess what? Yup bahasa Melayu. Berhubung orang Indonesia tidak mau dan tidak pernah ingin tahu sejarah bahasanya sendiri jadilah mereka buta sejarah. Bahasa Melayu ini berasal dari daerah yang sekarang bernama Riau dan dulu juga menjadi bahasa resmi dari Kerajaan Sriwijaya. Hampir semua bukti tertulis dari bahasa Melayu berupa batu prasasti ditemukan di wilayah Sumatra mulai dari prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, Kota Kapur, dan Karang Brahi. Saya tak pernah dengar (atau saya yang tak pernah tahu) ada prasasti serupa ditemukan di Malaysia. Saya tidak bermaksud menjadi provokator di sini, tapi begitulah adanya. Tapi yang perlu digarisbawahi adalah benar bahwa antara bangsa Indonesia dan Malaysia serumpun bahkan kita semua juga serumpun dengan bangsa-bangsa lain di kawasan Pasifik, mulai dari penduduk asli Taiwan, orang Filipina, Madagaskar sampai orang-orang Hawaii dan Pulau Paskah (Rapanui). Mereka semua juga orang yang masuk klasifikasi dalam Dunia Melayu (Malay World) atau istilah yang lebih sering digunakan adalah Austronesia. Jadi untuk Indonesia dan Malaysia, berdamailah. Kita ini satu. Batas-batas politik yang terwujud dalam batas geografi kita saat ini hanyalah warisan penjajah. Tidak perlu saling mengklaim produk budaya karena sebenarnya kita semua satu nenek moyang, it's in our genes. Jangan saling bertikai dan mudah diadu domba karena bangsa-bangsa Melayu adalah bangsa yang unggul, santun, berbudaya dengan peradaban yang gemilang. And remember that we are the true islanders!!
Labels: Jalan-Jalan

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home