Friday, July 10, 2009

Ada Suka Ada Duka

Hari ini merupakan hari terakhir gw stase di departemen pediatri. Benar-benar ga tahu harus senang atau sedih. Senang karena akhirnya untuk beberapa bulan ke depan gw ga wajib visite pagi, nanya-nanya, mem-vital sign pasien-pasien dan menuliskannya ke dalam buku status pasien dalam bentuk S-O-A-P. Selama dua bulan di pediatri gw benar-benar terasah menjadi seniman SOAP dech ha ha. Tetapi di sisi lain gw merasa cukup sedih karena ternyata ada banyak hal yang bisa dirindukan di pediatri: kantinnya (he he hidup gw serasa buat makan doang ya ;); kamar DM yang, sumpah, jadul banget; morning report, responsi-responsi, bimbingan kasus yang semuanya selalu menjadi kambing hitam dan saksi bisu menghilangnya kami dari ruangan (kabur dari kewajiban he he); para PPDS, perawat, dan pasien. Banyak banget kejadian dan pengalaman seru yang gw alami selama dua bulan terakhir di pediatri yang semuanya, asli, berkesan banget. Mulai dari dimarahi chief PPDS waktu jaga di salah satu ruangan gara-gara ada pasien dengan meningitis TB yang tiba-tiba apneu tanpa diketahui yang, asli, waktu gw observasi masih fine-fine aja terus gw tinggal SOAP dan atas kehendak-Nya meninggal beberapa menit kemudian. Gara-gara ini gw dipanggil chief PPDS ruangan dan dimarahi habis-habisan (Was it all my fault doc? ;), yang dibilang ga niat jaga lah, pingin tidur aja, ga tahu kewajiban di ruangan lah bla bla bla. "Kamu ga merasa berdosa ta?" katanya. Gw benar-benar ga bisa ngomong. Gara-gara kejadian ini pula gw merasa ga enak hati dengan PPDS junior yang waktu itu jaga bareng gw. Dia kena semprot juga gara-gara dianggap teledor ga mengontrol kinerja DM (maaf ya dokter Alexa(ini bukan nama sebenarnya lho). Padahal kalau dipikir-pikir,prognosis pasien ini tuh emang buruk, apalagi gw dikasih tahu kalau siang harinya dia tuh dah sempat gagal napas, tapi tertolong setelah diresusitasi. Suratan takdir kalee ya.
Pernah ada kisah lagi gw dan teman gw pas lagi jaga di ruang respirologi, kami dibentak oleh ibu pasien, ya, dibentak boooo. Dongkol banget. Sumpah sampai sekarang pun kedongkolan itu tak terhapuskan. Who do you think you are madam???? Gara-garanya anaknya yang lagi dirawat di situ khan lagi transfusi darah whole blood, terus baru dapat setengah pak, si anak mengeluh gatal-gatal, timbul ruam-ruam merah di badan, dan panas. Kami curiga si anak mengalami reaksi transfusi. Ya spontan aja kami langsung memeriksa si anak sebelum kami lapor ke PPDS jaga, namun si ibu agaknya ga sabaran dan langsung membentak kami. "Cepat panggilkan dokternya!!!!" dengan nada suara yang sumpah ga enak didengar banget. Ya Allah paringi sabar. Duh apa ibu itu lupa ya kalau kami juga punya perasaan :( Kami ada untuk melayani Anda, tapi itu tidak berarti Anda bisa memperlakukan kami seperti kacung!!!
Untungnya ga semua pasien dan orang tuanya seperti ibu yang di atas. Ada yang baiiik banget dengan kami-kami, kooperatif lah. Malah terkadang mereka curhat dan bercerita terlalu jauh mengenai hidup mereka he he. Kadang-kadang mereka suka muji-muji karena, katanya lho, gw telaten dan perhatian dengan mereka. Padahal gw cuma berusaha mendengarkan keluh kesah mereka sambil melakukan nebul dan suction berkala (halah apa wae ;) Kadang-kadang mereka juga ngasih inspirasi lho. Pernah ada orang tua pasien yang menganjurkan gw buat ngambil spesialis bedah saraf gara-gara anaknya kena meningocele. "Kasihan mereka, anak-anak dengan penyakit ini mas." ujar salah satu ibu pasien. Yah dipertimbangkan deh bu usulnya. Simbiosis mutualisme itu memang indah ;)